Friday, July 30, 2004

Cinta Jangan Kau Menyerah

untuk 'bukanarjuna'

Seribu hal dapat kau pahami
Namun satu hal tak mungkin kau selami

Sejuta kata dapat kau jelaskan
Namun satu kata tak mungkin kau pecahkan

Akankah kau menyerah
Ketika hari masih pagi
Bahkan ayam jantan pun belum berbunyi?

Akankah kau biarkan
Ketika belum usai
Cerita yang akan kau rangkaikan?

Jangan,
Jangan kau menyerah
Cinta memang bukan untuk diselami
Pun bukan untuk dipecahkan

Ia untuk dirasakan
Satukan dirimu dalamnya
Niscaya kau akan berkata,
"Aku akan terus berjalan!"

Saturday, July 24, 2004

KUBUS

Dua belas rusuk
Enam sisi
Pengap....

Dua belas rusuk
Enam sisi
Sesak....

Dua belas rusuk
Enam sisi
Gelap....

Teriak....Gedor...
Dobrak...Terjang....
Atau cukup buka saja dari dalam....
Hingga...

Dua belas rusuk
Lima sisi
Silau...

Dua belas rusuk
Lima sisi
Awal kebebasan...

Waktu......

Simpan rasa
Sekuat tenaga raih asa
Berteman angan
Melayang bersama awan

Waktu......

Temui bulan
Sapa matahari
Salami bintang
Peluk galaksi

Waktu......

Pulang kembali
Berpijak pada bumi
Melepas angan
Berpisah dari awan

Waktuku.....

Melebur bersama waktu
Hingga waktu tak berwaktu

Bintang

 

Ku tanya bintang yang terangi malam itu,
"Apakah yang kau rasakan nun jauh di sana..?"

Ketika wujud tak berbatas
segalanya terasa bebas

Ketika waktu tak terkira
seakan segalanya abadi adanya

Bintang yang bercahya itu pun menjawab,
"Wahai kau, anak manusia yang tak pernah henti berkeluh kesah.."

Tak dapatkah kau lihat?
betapa sepi hati ini

walau indah cahya kupancarkan
tak pun dapat terangi gelapnya seluruh jagat

Tak kah kau bersyukur,
wujud di sekitar mu bersama
tumpahan kasih kau rasa
dari mereka?

Aku termenung,
pun tak habis heranku..

Ya,
hidup untuk bersyukur
dengan syukur 'kan terasa hidup

Agaknya, bintang itu
ingin ku 'tuk tahu
betapa sederhananya arti,
menjadi:
seorang anak manusia!

Friday, July 23, 2004

agar ku tau

hitam dalam resah
kelam dalam gelisah
seiring waktu berlalu

ingin kurengkuh
ingin kusentuh
walau seujung jari mu

tolong tunjukkan
satu titik terang
jadi pedoman

agar kutau
di sana memang ada jalan

Tuesday, July 13, 2004

In the Night

Streets are lit with songs
A melody for the distressed
Hypnotizing one down an alleyway
A labyrinth with no end

The soul shouted in vain
Moon nor stars gave a nod
None were willing to lend a hand
It was one of those nights again

Questions laughed with satisfaction
Answers stood on the walls mocking
Dreams buried themselves into graves
All agreed to turn deaf ears

Several times more it returned
Since the change took place
In that same night of cries with no tears
In the night, only in the night

Diam

Hentikan perbincangan, bukakan telinga
Dengarkan angin kencang berbisik
Burung burung di hutan berbicara
Dan air sungai berteriak tanpa daya

Segala tubuh alam bersuara
Tergerak karena tetesan air mata
Yang jatuh menyentuh bumi ia berpijak
Ia yang merintih, namun tiada penolong

Sudah cukup
Cukup sudah
Jangan lagi
Lagi bukanlah saatnya

Jangan satu huruf lagi dinyatakan dari bibir
Waktunya telah tiba tuk menjadi pendengar
Sebagai awal dari upaya untuk mengangkatnya
Keluar dari kumpulan-kumpulan sampah
Ke atas permukaan bumi pertiwi ini
Agar dapat dirasakannya jua
Senyuman sang bumi Indonesia

Searching

Looking at the wrong faces
Being in the wrong places
Staying in the wrong moments
Walking the wrong paths

All in just passing through
To find the right piece
Of the puzzle this heart plays
That will last a lifetime

Monday, July 12, 2004

Credo

Tak 'kan kutukar kebebasanku
dengan kedudukan
maupun harga diriku
demi belas kasihan

Aku tak bakal merangkak
di depan majikan manapun,
atau bertekuk lutut
pada ancaman

Telah menjadi ikrarku
untuk berdiri tegak dan bangga
dan tak gentar,
untuk berpikir dan berkarya